Not so NEET Japanese Youth
(Published in the July 2007 edition of SOAP magazine)
Budaya pop anak muda Jepang telah memberikan inspirasi dan impresi bagi banyak orang di seluruh dunia, dari Gwen Stefani sampai juri Academy Awards. Namun di balik hip-nya Harajuku, manga dan J-Pop, generasi muda itu menyimpan kegelisahan yang dalam, jika tidak ingin disebut destruktif.Oleh Hera Diani
Angin bertiup kencang di kampus Keio University di Tokyo saat itu dan kami, jurnalis yang rata-rata datang dari negara dunia ketiga yang beriklim tropis mulai menggigil. Eri Miyoshi, mahasiswi S1 jurusan ekonomi di universitas tertua di Jepang yang ditunjuk sebagai chaperone itu tertawa kecil melihat keadaan kami.
"Ini sama sekali belum terasa dingin buat kami," ujar Eri, dengan bahasa Inggris logat Amerika yang lancar, sisa-sisa menjadi peserta pertukaran pelajar. Ia, seperti layaknya anak muda Jepang, sangat keren dan trendi, dengan rok mini dan sepatu bot, dan sesekali bercanda dengan kawan-kawannya yang juga tampak sangat stylish tapi juga quirky, khas anak muda Jepang.
Melihat mereka sekilas, sepertinya anak muda Jepang had it all good. Datang dari negara maju dan kaya di mana cuma ada dua kelas ekonomi, kelas atas dan kelas menengah, tidak ada kelas bawah di Jepang. Anak-anak muda Jepang pun dikenal kreatif dan punya gaya sendiri, dengan budaya pop yang menginspirasi dunia.
Namun di balik itu semua, bahkan Eri dan kawan-kawan pun menyimpan kegelisahan. Selain ketatnya persaingan dan sistem pembelajaran di universitas, setelah lulus, persaingan pun semakin tajam ditambah budaya dan beban di tempat kerja yang begitu berat, dengan jam kerja yang panjang.
"Meski kami mahasiswa universitas terkemuka, tapi belum tentu juga kami akan mudah mendapat kerja. Banyak teman kami yang tidak kunjung mendapat pekerjaan, akhirnya malah menjadi NEET," kata Eri.
Apa pula itu?Pertama kali dilontarkan di Inggris, NEET merupakan singkatan dari 'Not currently engaged in Employment, Education and Training', alias orang-orang yang tidak sedang bersekolah, bekerja atau ikut pelatihan serta tidak menikah.
Jika tidak melakukan aktivitas-aktivitas tersebut, jadi apa yang mereka lakukan sehari-hari? Ya, nongkrong-nongkrong gitu deh. Atau diam seharian di rumah (orang tua), bahkan mengunci diri di dalam kamar.
Di Jepang, fenomena NEET ini telah memunculkan isu sosial dan ekonomi yang serius karena kurang lebih satu dari 40 orang dari kelompok umur 15 sampai 34 tahun atau sekitar 850,000 orang menurut data 2004 tergolong NEET. Diperkirakan jumlah itu akan terus bertambah menjadi 984.000 pada 2010. Belum lagi ada sekitar dua juta orang muda yang lebih suka jadi freeters alias loncat dari satu pekerjaan paruh waktu ke pekerjaan paruh waktu lainnya, ditambah sekitar 650.000 orang lainnya (data lain mematok angka 1,46 juta) yang pengangguran.
Semua masalah ini tentunya meresahkan karena bisa merusak ekonomi negara berpenduduk 128 juta itu. Anak-anak muda yang seharusnya produktif (60 persen NEET berusia 25-34 tahun) dan menyumbang pada pendapatan negara, salah satunya dengan membayar asuransi, malah ada di posisi menerima bantuan keuangan. Lebih lanjut lagi, gejala ini dikhawatirkan akan meningkatkan pemakaian narkoba, kriminalitas, dan memunculkan kelas ekonomi bawah yang tadinya tidak ada di Jepang.
NEET dan Latar BelakangAda beberapa jenis NEET yang dikategorikan oleh para peneliti di Japan Institute for Labor Policy and Training, yaitu tipe anti sosial dan hedonistik; tipe penarik diri, yang tidak mampu membangun relasi dengan masyarakat dan sebagai gantinya menutup diri; tipe ‘paralyzed’, yang berpikir terlalu keras dalam mencari pekerjaan dan malah menghadapi jalan buntu; dan tipe cepat menyerah, yaitu yang sudah pernah bekerja namun tidak lama kemudian keluar dari pekerjaannya dan alhasil kehilangan kepercayaan diri.
Kei Kudo, salah satu pendiri Master & Pupil (MP) yang mengorganisir NEET, mengatakan bahwa banyak NEET yang sangat tertekan karena tidak kunjung mendapat pekerjaan sampai terkena penyakit kulit dan gangguan jiwa.
"Yang termasuk NEET ini ada juga perempuan-perempuan muda yang harus tinggal di rumah untuk mengurus kakek neneknya (Jepang memiliki populasi berusia sepuh yang sangat tinggi, tapi itu soal lain). Ada juga lulusan-lulusan dari luar negeri yang kesulitan berintegrasi dengan masyarakat," katanya.
Namun Kudo menolak prasangka bahwa NEET adalah sekumpulan anak-anak manja yang terbiasa hidup enak dan tidak mau susah, karena banyak di antara mereka juga bukan anak-anak orang kaya.
"Persoalan NEET bukan sekedar anak-anak manja yang tidak mau berjuang, tapi lebih dari itu. Ada persoalan psikologis yang membuat mereka menarik diri dari masyarakat dan memilih tinggal di rumah daripada mencari pekerjaan," ujarnya baru-baru ini saat kami bertemu di Tokyo.
Mariko Fujimoto, direktur riset di lembaga penelitian Hakuhodo Inc. Institute of Life and Living, berkata bahwa kemunculan NEET dilatarbelakangi salah satunya oleh masalah ekonomi. Sepuluh sampai 12 tahun terakhir ini, menurut Fujimoto, merupakan periode yang turbulen bagi ekonomi negara matahari terbit itu, meski Jepang masih termasuk negara terkaya di dunia.
Dalam periode ini, ada perusahaan-perusahaan yang mendapuk untung, tapi banyak juga yang merugi dan akibatnya banyak yang harus mem-PHK karyawan-karyawannya. Selain itu, teknologi robot juga mengambil alih sehingga proses manufaktur di Jepang tidak lagi terlalu memerlukan tenaga manusia. Banyak juga perusahaan yang lebih memilih melakukan produksinya di negara lain. Jadi, desain bisa saja dilakukan di Jepang, tapi pabrik didirikan di luar Jepang.
"Generasi muda sekarang menghadapi situasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya yang mencicipi masa 'booming economy'. Anak-anak muda berusia 20-30 tahun sekarang ini merupakan kelompok pertama yang mengalami masa resesi panjang. Dan meski mereka mendapatkan pendidikan bermutu, banyak yang sulit mencari pekerjaan ketika lulus SMA dan universitas," kata Fujimoto saat ditemui di kantornya yang juga merupakan biro iklan besar.
Pasar tenaga kerja menjadi sangat kompetitif dan sangat tidak stabil bagi anak muda. Banyak perusahaan yang lebih memilih mempekerjakan pegawai paruh waktu agar tidak usah memberikan asuransi dan pesangon.
Di lain pihak, bukan hanya resesi yang menyebabkan sulitnya lapangan pekerjaan, tapi ada juga masalah ketidakselarasan antara dunia pendidikan dan industri.
"Ada lulusan-lulusan yang oversupply, misalnya dari jurusan teknik, sains lingkungan, kajian Asia, ekonomi dan sosiologi. Para lulusan juga tidak terlatih dan tidak dipersiapkan untuk kebutuhan industri. Hal ini menyulitkan Jepang yang ingin lebih jauh terlibat dalam ekon" kata Fujimoto.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, Sains dan Teknologi, Nariaki Nakayama mengatakan bahwa kompetisi pendidikan yang ketat juga berkontribusi dalam menghasilkan NEET ini.
"Dulu kita mengajarkan di sekolah bahwa kompetisi itu tidak baik. Tapi nyatanya begitu kita bekerja, kita dihadapkan pada kompetisi super ketat, dan anak-anak jadi bingung karenanya. Bukankah pendidikan saat ini menghasilkan gelombang NEET dan freeters yang besar?" ujarnya tahun lalu.
Produk pemanjaan orang tuaMeski Kudo menolak stigma NEET sebagai anak manja kaya, namun diakui banyak ahli bahwa sebagian NEET memang produk pola asuh dari orang tua yang terlalu memanjakan anak-anaknya.
Menurut Fujimoto, kebanyakan dari kelompok NEET ini datang dari keluarga dengan jumlah anak yang lebih sedikit dari generasi sebelumnya, dengan orang tua yang cukup berada dan sanggup membiayai pendidikan berkualitas.
"Para orang tua tersebut saking sayangnya pada anak-anak mereka, tidak memaksa anak-anaknya untuk langsung bekerja setelah lulus. Mereka senang-senang saja mengakomodasi anak-anaknya untuk sementara sehingga banyak anak muda yang masih tinggal bersama orang tuanya," katanya.
Para orang tua itu mendorong si anak untuk mencari 'passion' nya, dan meminta mereka untuk tidak bertahan dalam pekerjaan yang tidak mereka senangi.
Pola pengasuhan ini ternyata berbalik menyesatkan anak-anak muda itu. Alih-alih mencari passion hidupnya, mereka malah tidak tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup mereka.
"Anak-anak muda ini juga tidak merasa ada masalah jika mereka tidak bekerja. Para orang tua mereka patut disalahkan karena tidak berhasil mengajarkan anak-anak mereka makna dari bekerja," ujar presiden Hosei University, Tadao Kiyonari, suatu waktu.
Atau dalam istilah salah seorang kawan, jurnalis Amerika yang sempat bertugas di Jepang selama lebih 20 tahun, "Young Japanese are not 'hungry' anymore."
Solusi untuk NEETProf. Akira Takanashi dari Shinshu University pernah mengatakan bahwa "Fenomena NEET merupakan pemberontakan anak muda terhadap tatanan masyarakat secara diam-diam. Jika dulu pada periode 1960an-1970an para mahasiswa memberontak secara sadar dan melakukan protes, karakteristik dari NEET sekarang ini adalah mereka tidak sadar telah melakukan protes (unconscious quality)."
Ia menambahkan bahwa masyarakat, termasuk sektor industri dan pendidikan, bertanggung jawab memecah fenomena ini. "Sekolah sangat kurang memberikan informasi pendidikan kerja," katanya.
Pemerintah Jepang sendiri pada 2005 sudah membentuk satu komite untuk membangun strategi dalam menolong anak muda menjadi lebih mandiri dan bisa menyelesaikan masalah-masalah mereka. Ada juga usulan untuk membangun sekolah di mana anak-anak muda bisa mendapatkan keterampilan dasar, dengan format seperti 'training camp.'
Kalangan industri juga sudah mulai memiliki perhatian terhadap masalah NEET. Kenzaburo Mogi, vice chairman dari Kikkoman Corporation, mengatakan bahwa industri juga turut bertanggung jawab karena tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup.
"Industri seharusnya melakukan sesuatu bersama dengan pemerintah, misalnya dengan melakukan pelatihan," ujar Mogi, meski ia mengakui perusahaan tempat ia bernaung belum memiliki program untuk NEET.
Sementara itu, Kei Kudo dengan Master & Pupil-nya (www.sodateage.net) yang dibentuk 2001 berusaha membantu anak muda mendapatkan pekerjaan lewat pelatihan kerja serta pelayanan konseling.
Namun program di MP ini tidak gratis, karena biaya tiap peserta per bulannya sekitar 50.000 Yen per bulan atau sekitar Rp 10 juta, meski setengahnya disubsidi pemerintah. Pelatihan yang diberikan di antaranya pelatihan untuk sektor pertanian, informasi teknologi dan manufaktur.
Sejauh ini, menurut Kudo, sudah ada sekitar 10.000 – 15.000 orang yang sudah mendapatkan pelatihan dan bekerja di kantor pemerintahan atau swasta.
"Organisasi kami masih terbatas dalam menjangkau NEET dan menyediakan aktivitas dan kesempatan untuk mereka. Kami percaya dan merekomendasikan bahwa membangun jaringan dengan komunitas akan membantu para NEET," ujar Kudo.
Yang penting menurut Prof. Takanashi adalah masyarakat tidak memandang sebelah mata pada para NEET ini.
"Tidak ada gunanya menyalahkan NEET dan memberitahu mereka supaya berhenti bersikap seperti anak kecil. Yang paling penting adalah supaya masyarakat berubah dan lebih dekat dengan anak-anak muda ini."
Labels: culture
| Permalinks
Post a Comment